Komunikasi

Speech Delay, Kenali dan Stimulasi dengan Cara Ini!

24 February 2021

Speech Delay, Kenali dan Stimulasi dengan Cara Ini!

Bagikan Artikel ini

116

Si kecil tidak mau berbicara di usianya yang sudah dua tahun. Dia tidak mau menjawab saat ditanya. Orang-orang di sekitar mulai memperbincangkannya. Duh, panik dan bingung rasanya, ya?

Beberapa orang menyebut bahwa masalah keterlambatan berbicara pada anak sebagai speech delay. Jika diartikan secara sederhana, kemampuan berbahasa anak tidak sesuai dengan usianya. Apa dan bagaimana speech delay? Dokter Anggia Farrah Rizkiamuti, Sp.A, M.Kes dari Siloam Purwakarta menjelaskannya secara lengkap pada sesi webinar parenting yang diadakan oleh Kodomo Challenge.

 

Penyebab Speech Delay dan Deteksi Dini

Speech delay tidak selalu berkaitan dengan kemampuan otak atau IQ anak. Itu hanya salah satunya saja.

Pada dasarnya, pada tumbuh kembang anak kemampuan berbahasa ini memasuki periode kritis pada usia 9 sampai 24 bulan. Menurut National Center for Health Statistic, kondisi tersebut banyak dialami anak dengan usia balita, sekitar 5 sampai 8 persen.

Akibat yang paling terlihat dari anak adalah kemampuan interaksi sosialnya yang sedikit; perkembangan emosi terhambat (anak sering tantrum karena orang lain tidak mengerti keinginannya); kemampuan kognitif lambat karena tidak memahami perintah sederhana; dan perkembangan fisik dan motorik yang terhambat.

Penyebab speech delay atau keterlambatan berbicara, yaitu:

  • Adanya gangguan pendengaran sehingga tidak dapat meniru suara. Gangguan ini bisa terdeteksi sejak bayi, misalnya si kecil tidak pernah terkejut mendengar suara nyaring, tidak menoleh saat dipanggil, dan sebagainya.
  • Gangguan perilaku, seperti si kecil yang menderita autistik. Orang tua dapat mengenalinya dengan hal kecil, mata mereka tidak fokus menatap wajah di depannya ketika diajak berbicara atau asyik sendiri memperhatikan sesuatu dalam waktu yang sangat lama.
  • Gangguan organ suara, sehingga tidak dapat mengucapkan kata dengan jelas.
  • Kurang stimulasi akibat kurang interaksi dan penggunaan gadget secara berlebihan.

Sebagian besar anak terlambat berbicara dikarenakan kurangnya stimulasi. Anak dibiarkan bermain seorang diri atau perbedaan bahasa orang tua dan yang ditontonnya melalui gawai atau gadget. Cara terbaik mengetahuinya adalah deteksi dini.

Deteksi dini akan membuat Anda lebih aware terhadap pertumbuhan danperkembangannya, lalu segera bertindak saat tidak sesuai jalur. Deteksi dini dapat dilakukan dengan pedoman developmental milestone yang biasanya terdapat pada buku-buku parenting atau dapat Moms and Dads lihat di internet. Developmental milestone adalah ukuran kemampuan minimal anak di rentang usia tertentu.

Khusus untuk kemampuan bahasa, orang tua dapat segera mencari solusi jika Si Kecil mempunyai  tanda-tanda berikut:

  • Tidak dapat bersuara sampai usia 6 bulan. Tidak pernah menangis atau tidak mengeluarkan bunyi yang disebut cooing, khas bayi.
  • Tidak dapat mengoceh atau babling sampai berusia 12 bulan. Babling adalah suara tidak bermakna kata dan terdengar tidak jelas.
  • Tidak dapat menyebutkan satu kata pun selain mengoceh sampai berusia 16 bulan. Kata di sini, misalnya ma, pa, ba, dan sebagainya.
  • Tidak dapat menunjuk benda di usia 20 bulan
  • Tidak menunjukkan ketertarikan pada orang lain ketika berusia 20 bulan. Bisa jadi dia hanya asyik dengan dunianya sendiri. Tidak menoleh ketika ada yang memanggil atau mengajaknya berbicara.
  • Tidak dapat membuat frasa bermakna di usia 24 bulan, seperti minum dan menunjuk ke gelas ketika haus atau memanggil papa ketika ayah datang.
  • Orang tua masih tidak dapat memahami apa yang diinginkan dan diucapkan si kecil saat berusia 30 bulan. Ini sering menjadikan ananda frustasi dan tantrum, emosinya tidak terkendali.
  • Sering mengulang ucapan orang lain padahal usianya sudah 30 bulan. Pengulangan kata tidak dimaksudkan untuk tujuan apa pun.

Jika si kecil Moms and Dads mempunyai masalah di atas, segera mencari tahu penyebabnya agar dapat diatasi sedini mungkin!

Mainan untuk Stimulasi Kemampuan Berbahasa si Kecil

Banyak anak mengalami speech delay karena kurangnya stimulasi. Apalagi jika sejak bayi sudah terdeteksi anak dapat terkejut mendengar suara nyaring. Pendengarannya sangat normal.

Stimulasi ini sebaiknya dilaksanakan sejak dini, terus menerus, dan dilakukan oleh orang tua. Caranya juga tidak sulit, lingkungan sekitar dapat dijadikan alat peraga. Mainan yang mendorong kemampuan bahasa juga dapat dengan mudah ditemui. Yang terpenting, kegiatan sesuai dengan usia, menyenangkan, dan diakhiri dengan pujian agar anak termotivasi.

 

Gambar anak yang sedang bermain dengan Kodomo Challenge Bahasa Paket 1: Mengenal Binatang!

Saat ini, Kodomo Challenge menghadirkan program Bahasa yang dikhususkan untuk mengoptimalkan kemampuan berbahasa, bicara dan komunikasi anak usia 1-3 tahun. Paket edukasi ini terdiri dari mainan edukasi, buku bergambar, dan video yang disesuaikan dengan umur dan tahap perkembangan pada Si Kecil.

Selain tema mengenai kemampuan Bahasa, di dalam program ini Si Kecil juga dilatih meningkatkan kemampuan kognitif melalui warna dan bentuk. Paket edukasi ini juga menjadi cara jitu mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget, lho.

Lebih dari 400.000 anak Indonesia sudah berpengalaman bermain dan belajar bersama Kodomo Challenge, lho. Menarik bukan? Yuk, segera miliki paket edukasinya untuk Si Kecil!

Bagikan Artikel ini

Digital Free Trial Kit

Akses ke Ruang Edukasi Kodomo Challenge

Gratis Badge

Dapatkan Aktivitas Edukasi dan Video Edukasi yang dapat digunakan untuk menstimulus Si Kecil berkomunikasi, mengajarkan kebiasaan hidup, rasa percaya diri dan masih banyak lagi. Dapatkan secara GRATIS dan dapat diakses kapan saja. Daftar sekarang dan nikmati fasilitas FREE TRIAL dari Kodomo Challenge.

Daftar Sekarang

Rumah Dandelion

Agstreid

Agstried Elisabeth M.Psi.

Agstried Elisabeth M.Psi., Psikolog

Agstried adalah salah satu co-founder Rumah Dandelion. Sebagai seorang psikolog pendidikan, Agstried memiliki minat yang besar terhadap pola pengasuhan pada usia dini dan kaitannya terhadap keberhasilan anak di kehidupan. Pengalaman di bidang pendidikan usia dini sebagai psikolog asosiat di beberapa sekolah internasional, ditambah pengalaman mengajar sebagai dosen membuat Agstried menyadari pentingnya pola pengasuhan di awal kehidupan dewasa, sehingga ia semakin ingin terjun ke bidang pendidikan anak usia dini. Agstried berfokus pada isu-isu kematangan sekolah dan kaitannya dengan berbagai isu perilaku di sekolah

Binky

Binky Paramitha I., M.Psi.

Binky Paramitha I., M.Psi., Psikolog

Binky adalah seorang Psikolog Pendidikan yang menyelesaikan masa studinya di Universitas Indonesia, Fakultas Psikologi. Ia merupakan salah satu co-founder Rumah Dandelion. Selain itu, Binky juga seorang istri dan ibu dari dua anak. Dunia pendidikan dan anak-anak adalah dua dunia yang sangat ia cintai. Baginya, pendidikan adalah hal penting dan perlu dialami oleh setiap orang, dan masa anak-anak adalah masa yang paling banyak mendapat paparan pendidikan, baik formal maupun informal. Walaupun sebenarnya, pendidikan dapat kita peroleh sepanjang hayat, dari siapa pun dan dari mana pun.

Nadya

Nadya Pramesrani, M.Psi.

Nadya Pramesrani, M.Psi., Psikolog

Nadya merupakan psikolog klinik dewasa yang menyelesaikan studi profesinya di Universitas Indonesia. Ia telah berpraktik selama hampir 10 tahun dan banyak menangani kasus pernikahan, keluarga, persiapan menikah, dan kasus depresi serta gangguan emosi lainnya. Selain berpraktik, Nadya juga kerap menjadi narasumber untuk penulisan artikel di media-media digital dan mengisi acara talk show di televisi atau tanya jawab di radio. Dalam menangani kasus-kasus yang ada, Nadya kerap menggunakan prinsip-prinsip Cognitive Behavioral Therapy dan Solution Focused Brief Therapy. Ia juga memiliki memiliki latar belakang pendidikan untuk melakukan tes-tes psikologi terstandarisasi. Saat ini ia terdaftar sebagai anggota di Ikatan Psikolog Klinis Indonesia dan Himpunan Psikologi Indonesia.

Orissa

Orissa Anggita, M.Psi.

Orissa Anggita, M.Psi., Psikolog

Kesenangan dan kepedulian Orissa pada dunia anak-anak semakin menguat setelah ia menjalani profesi psikolog dan menjadi ibu. Ia lulus cum laude dari program magister Psikologi UI dan punya berbagai pengalaman sebagai guru, dosen, fasilitator pelatihan, dan pembicara seminar dengan topik seputar pendidikan, perkembangan anak, dan pengasuhan. Orissa terlibat dalam pendirian Rumah Dandelion karena ia percaya bahwa anak dapat berkembang optimal bila mendapat stimulasi yang tepat, dan bila orang tua mau senantiasa aktif memperluas wawasan, mengasah keterampilan pengasuhan, dan mengubah pola perilakunya bila perlu.

Dokter Spesialis Anak

Agstreid

dr. Dimple G. Nagrani Sp. A.

dr. Dimple G. Nagrani Sp. A., Dokter Anak

dr. Dimple menempuh pendidikan kedokteran serta program spesialis Ilmu Kesehatan Anak di Universitas Indonesia. Selain melakukan praktek di RSIA Bunda Menteng dan RS. Hermina Kemayoran, dr. Dimple juga membagikan informasi seputar kesehatan anak di media sosial lewat Instagram @happykids_id.

Binky

dr. AAA. Putu Indah Pratiwi, Sp. A.

dr. AAA. Putu Indah Pratiwi, Sp. A., Dokter Anak

dr. Putu merupakan dokter spesial anak di RS Pondok Indah Bintaro Jaya dengan pengalaman kerja di bidang kedokteran hampir 20 tahun. Sebelumnya ia juga pernah melakukan praktek di beberapa klinik anak. Pendidikan sarjana dan magisternya ia tempuh di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Berkomunikasi dengan si Kecil Lewat Suara dan Sentuhan Komunikasi

Berkomunikasi dengan si Kecil Lewat Suara dan Sentuhan

Usia 0 bulan
Berkomunikasi dengan si kecil yang baru lahir dapat dilakukan lewat suara atau sentuhan. Sentuhan dan suara yang lembut adalah langkah awal untuk membangun hubungan antara orangtua dengan si kecil.

262

0 Tahun
Berikan Stimulasi untuk Penglihatan dan Kepekaan si Kecil terhadap Sentuhan Komunikasi

Berikan Stimulasi untuk Penglihatan dan Kepekaan si Kecil terhadap Sentuhan

Usia 1 bulan
Di awal kelahirannya, penting bagi Moms dan Dads untuk selalu memberikan stimulasi dan sentuhan pada si kecil. Ia akan sangat bergairah saat Moms dan Dads memberikan stimulasi pada penglihatan dan sentuhan pada tubuhnya.

411

0 Tahun
Melatih Respons si Kecil Melalui Permainan Komunikasi

Melatih Respons si Kecil Melalui Permainan

Usia 3 bulan
Saat berinteraksi melalui permainan, Moms maupun Dads dan si kecil akan saling mengenal satu sama lain dan dapat bermain dengan ekspresif. Beberapa permainan ini bahkan dapat melatih respons si kecil.

349

0 Tahun
Buat si Kecil Lebih Aktif dengan 4 Permainan Ini Komunikasi

Buat si Kecil Lebih Aktif dengan 4 Permainan Ini

Usia 2 bulan
Pada masa ini, si kecil akan menganggap bahwa bermain dengan menggerakan tangan dan kaki itu menyenangkan. Moms dan Dads bisa membuatnya lebih aktif lagi dengan permainan ini.

 

3479

0 Tahun