Tumbuh Kembang Anak

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 2-3 Tahun

14 August 2018

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 2-3 Tahun

Bagikan Artikel ini

36448

Setiap anak memiliki tahapan tumbuh kembang yang berbeda-beda. Proses ini dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari faktor genetik, asupan gizi, dan juga lingkungan. Ada beberapa anak yang mengalami perkembangan bahasa lebih cepat, sehingga kemampuan berbicaranya sudah melebihi anak seusianya. Namun, ada pula anak yang perkembangan motoriknya terjadi lebih cepat, maka ia pun bisa lebih dahulu berguling, duduk, atau berjalan dibandingkan anak lain.

 

Meskipun tahapan tumbuh kembang anak berbeda-beda, Moms dan Dads tetap harus mengetahui fase apa saja yang idealnya akan dilalui oleh anak sesuai dengan usianya. Nah, berikut ini adalah tahapan tumbuh kembang anak usia batita yang perlu Mom dan Dads ketahui.

 

Perkembangan Anak Usia 2 Tahun

Ketika si kecil memasuki usia 2 tahun, akan ada banyak kemampuan baru yang dapat dikuasainya. Dari sisi motorik, perkembangan anak 2 tahun dapat ditandai dengan koordinasi dan keseimbangan tubuh yang lebih baik. Hal ini bisa terlihat dari kemampuannya untuk berlari tanpa perlu lagi berpegangan atau bermain lempar bola tanpa kehilangan keseimbangan.

 

Perkembangan kognitif dan bahasa si kecil juga banyak meningkat di usia 2 tahun. Si kecil akan menguasai semakin banyak kosakata sederhana (bisa mencapai 50 kata) dan mulai merangkai setidaknya 2 kata menjadi kalimat sederhana, sehingga lebih mudah untuk mengemukakan keinginannya. Pada usia ini, anak juga sudah mulai mengetahui nama-nama anggota keluarga serta mampu menjawab ketika ditanya.

 

Sementara untuk perkembangan emosi dan sosial, perkembangan anak 2 tahun ditandai dengan kemampuannya untuk mulai bisa mengungkapkan emosi secara bertahap. Namun, keterbatasan anak untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan terkadang membuatnya frustasi. Akhirnya, Moms dan Dads akan sering menghadapi kondisi tantrum pada si kecil. Tantrum pada anak usia 2 tahun sebaiknya segera ditangani dengan tepat. Karena jika Moms dan Dads membiarkannya, fase tantrumnya dapat berjalan jauh lebih lama dan perkembangan emosinya menjadi kurang matang.

 

Selain itu, anak berusia 2 tahun akan sangat suka meniru perilaku orang yang lebih tua darinya, mulai dari gestur tubuh, cara berjalan, bahkan perkataan. Karena itu, Moms dan Dads harus lebih berhati-hati ketika bersikap dan lebih selektif memilih lingkungan bermain untuk si kecil. Jangan sampai si kecil menirukan ucapan atau perbuatan yang tidak semestinya ia lakukan.

 

Perkembangan Anak Usia 3 Tahun

Memasuki usia 3 tahun, pertumbuhan anak terjadi semakin pesat. Dari segi motorik, anak usia 3 tahun sudah menunjukkan kemampuan koordinasi yang lebih matang. Si kecil tidak akan lagi kesulitan menggenggam benda-benda kecil, membuka halaman buku, dan menyusun balok mainannya. Bahkan, perkembangan anak 3 tahun juga mulai ditunjukkan dengan kemampuan memakai dan melepas pakaian tanpa bantuan Moms dan Dads.

 

Sementara dalam perkembangan kognitif, anak berusia 3 tahun akan mulai memahami hukum sebab akibat. Misalnya, ketika si kecil menjatuhkan mainan, maka akan terdengar suara nyaring. Dalam tahap perkembangan anak 3 tahun, si kecil juga akan mulai mengerti konsep waktu sederhana. Misalnya, ketika Moms dan Dads mengatakan akan pergi ke kantor besok, maka si kecil pun mulai mengetahui maksudnya. Dalam perkembangan bahasa, si kecil akan semakin banyak menguasai kosakata baru. Ia juga mulai mengerti kapan saatnya menggunakan kata ganti orang seperti "kamu" dan "aku".

 

Secara emosional, anak yang dilatih untuk mengungkapkan perasaannya secara verbal, akan lebih mudah mengungkapkan perasaan dan keinginannya kepada Moms dan Dads. Kemampuan ini akhirnya mempengaruhi sikap tantrum-nya yang perlahan mulai berkurang. Anak dalam masa perkembangan di usia 3 tahun juga sudah bisa memahami konsep kepemilikan. Artinya, ia akan mulai tahu apakah mainan itu miliknya atau milik temannya. Dalam masa ini, ada baiknya Moms dan Dads juga mengajarkan anak tentang konsep berbagi.

 

Itu dia beberapa tahap tumbuh kembang anak yang akan dialami ketika si kecil berusia 2 dan 3 tahun. Meskipun terdapat fase ideal dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, tapi setiap anak akan melalui proses yang berbeda-beda. Jadi, sebaiknya Moms dan Dads jangan terlalu membandingkan dan memaksakan kemampuan si kecil jika belum bisa melakukan hal yang sama dengan batita lain. Apabila Moms dan Dads merasa ragu dengan perkembangan anak, cobalah bertanya atau berkonsultasi dengan ahli, seperti dokter atau psikolog anak.

 

Image source: https://www.youngparents.com.sg

(Supervised by: Rumah Dandelion)

Bagikan Artikel ini

Rumah Dandelion

Agstreid

Agstried Elisabeth M.Psi.

Agstried Elisabeth M.Psi., Psikolog

Agstried adalah salah satu co-founder Rumah Dandelion. Sebagai seorang psikolog pendidikan, Agstried memiliki minat yang besar terhadap pola pengasuhan pada usia dini dan kaitannya terhadap keberhasilan anak di kehidupan. Pengalaman di bidang pendidikan usia dini sebagai psikolog asosiat di beberapa sekolah internasional, ditambah pengalaman mengajar sebagai dosen membuat Agstried menyadari pentingnya pola pengasuhan di awal kehidupan dewasa, sehingga ia semakin ingin terjun ke bidang pendidikan anak usia dini. Agstried berfokus pada isu-isu kematangan sekolah dan kaitannya dengan berbagai isu perilaku di sekolah

Binky

Binky Paramitha I., M.Psi.

Binky Paramitha I., M.Psi., Psikolog

Binky adalah seorang Psikolog Pendidikan yang menyelesaikan masa studinya di Universitas Indonesia, Fakultas Psikologi. Ia merupakan salah satu co-founder Rumah Dandelion. Selain itu, Binky juga seorang istri dan ibu dari dua anak. Dunia pendidikan dan anak-anak adalah dua dunia yang sangat ia cintai. Baginya, pendidikan adalah hal penting dan perlu dialami oleh setiap orang, dan masa anak-anak adalah masa yang paling banyak mendapat paparan pendidikan, baik formal maupun informal. Walaupun sebenarnya, pendidikan dapat kita peroleh sepanjang hayat, dari siapa pun dan dari mana pun.

Nadya

Nadya Pramesrani, M.Psi.

Nadya Pramesrani, M.Psi., Psikolog

Nadya merupakan psikolog klinik dewasa yang menyelesaikan studi profesinya di Universitas Indonesia. Ia telah berpraktik selama hampir 10 tahun dan banyak menangani kasus pernikahan, keluarga, persiapan menikah, dan kasus depresi serta gangguan emosi lainnya. Selain berpraktik, Nadya juga kerap menjadi narasumber untuk penulisan artikel di media-media digital dan mengisi acara talk show di televisi atau tanya jawab di radio. Dalam menangani kasus-kasus yang ada, Nadya kerap menggunakan prinsip-prinsip Cognitive Behavioral Therapy dan Solution Focused Brief Therapy. Ia juga memiliki memiliki latar belakang pendidikan untuk melakukan tes-tes psikologi terstandarisasi. Saat ini ia terdaftar sebagai anggota di Ikatan Psikolog Klinis Indonesia dan Himpunan Psikologi Indonesia.

Orissa

Orissa Anggita, M.Psi.

Orissa Anggita, M.Psi., Psikolog

Kesenangan dan kepedulian Orissa pada dunia anak-anak semakin menguat setelah ia menjalani profesi psikolog dan menjadi ibu. Ia lulus cum laude dari program magister Psikologi UI dan punya berbagai pengalaman sebagai guru, dosen, fasilitator pelatihan, dan pembicara seminar dengan topik seputar pendidikan, perkembangan anak, dan pengasuhan. Orissa terlibat dalam pendirian Rumah Dandelion karena ia percaya bahwa anak dapat berkembang optimal bila mendapat stimulasi yang tepat, dan bila orang tua mau senantiasa aktif memperluas wawasan, mengasah keterampilan pengasuhan, dan mengubah pola perilakunya bila perlu.

Dokter Spesialis Anak

Agstreid

dr. Dimple G. Nagrani Sp. A.

dr. Dimple G. Nagrani Sp. A., Dokter Anak

dr. Dimple menempuh pendidikan kedokteran serta program spesialis Ilmu Kesehatan Anak di Universitas Indonesia. Selain melakukan praktek di RSIA Bunda Menteng dan RS. Hermina Kemayoran, dr. Dimple juga membagikan informasi seputar kesehatan anak di media sosial lewat Instagram @happykids_id.

Binky

dr. AAA. Putu Indah Pratiwi, Sp. A.

dr. AAA. Putu Indah Pratiwi, Sp. A., Dokter Anak

dr. Putu merupakan dokter spesial anak di RS Pondok Indah Bintaro Jaya dengan pengalaman kerja di bidang kedokteran hampir 20 tahun. Sebelumnya ia juga pernah melakukan praktek di beberapa klinik anak. Pendidikan sarjana dan magisternya ia tempuh di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Komunikasi Yang Baik Antara Orang Tua dan Anak akan Mendorong Perkembangan Bahasa Language Development

Komunikasi Yang Baik Antara Orang Tua dan Anak akan Mendorong Perkembangan Bahasa

Perbedaan tingkat perkembangan kemampuan bahasa dan wicara anak usia 1-3 tahun bisa sangat besar, sehingga banyak orang tua yang khawatir anaknya “lambat bicara” atau ”kemampuan bahasanya rendah” dan sebagainya.

395

Kebiasaan Anak Mengoceh dan Mengapa Orang Tua Tidak Perlu Khawatir! Language Development

Kebiasaan Anak Mengoceh dan Mengapa Orang Tua Tidak Perlu Khawatir!

Di periode babbling, jika anak mengoceh sembari melihat langsung ke wajah orang tua, dan anak bereaksi pada saat orang tua memanggil, berarti tidak perlu khawatir!

184

Hubungan Antara Menunjuk dan Kemampuan Wicara dan Bagaimana Jika Anak Saya Jarang Menunjuk? Language Development

Hubungan Antara Menunjuk dan Kemampuan Wicara dan Bagaimana Jika Anak Saya Jarang Menunjuk?

Menunjuk merupakan gerakan yang dilakukan anak terhadap benda yang menarik perhatiannya atau yang diinginkannya, sehingga memiliki peran yang sangat penting dalam tumbuh-kembang anak.

214

Kalimat Dua Kata Itu yang Seperti Apa? Mulai Usia Berapa? Language Development

Kalimat Dua Kata Itu yang Seperti Apa? Mulai Usia Berapa?

Di usia sekitar 1 tahun, si kecil seharusnya mulai mengucapkan kata pertama, seperti “mama” atau “ayah”. Ia juga akan mulai menirukan berbagai kata yang diucapkan oleh orang-orang di sekitarnya.

237